Laman

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2012

Opini : Magazine, The Power Of Prints

Setiap teknologi baru pasti akan membunuh teknologi lama yang telah usang. Ambilah contoh ketika kehadiran radio, teknologi telegram lenyap seketika dan ketika teknologi kian canggih, teknologi yang digunakan dalam pementasan maupun film kian kehilangan peminatnya. Namun yang paling mengerikan adalah ketika teknologi internet semakin menguatkan penetrasinya, mengakibatkan hampir semua  teknologi media yang sudah ada menjadi ‘ciut’ nyalinya dalam menghadapi isu konversi digital. Memang jika dilihat secara seksama, teknologi internet menawarkan banyak kemudahan seperti jangakauan yang luas, konten yang 
beragam dan harga yang lebih murah dibandingkan  membayar untuk media cetak konvensional.

Namun, ada sebuah pengecualian terhadap satu jenis media cetak yang masih mampu bertahan dengan kuat di tengah arus perubahan digital yang kian cepat, jenis media cetak tersebut adalah majalah. Majalah merupakan media cetak yang memiliki tiras penjualan terbesar, lebih dari 300 juta eksemplar terjual setiap bulannya di seluruh dunia dan mencatat jumlah pengiklan yang stabil bahkan untuk beberapa jenis majalah seperti majalah mode dan gaya hidup, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. (dari data riset Hearst Publishing House, salah satu imperium publikasi besar dunia)
Majalah memiliki banyak jenis tema yang menyasar ke beragam segmentasi pembaca sehingga menghasilkan ceruk pembaca yang loyal. Sajian informasi yang ditampilkan juga menyesuaikan dengan tema yang diusung sehingga memiliki karakter yang kuat untuk pembaca, seperti contoh majalah olahraga, gaya hidup dan lain sebagainya. Bahkan beberapa majalah menjadi panutan besar masyarakat modern seperti majalah Vogue yang menjadi kiblat mode dunia, majalah Time yang menjadi pemimpin di isu politik, majalah The New Yorker yang menjadi ‘pegangan hidup’ warga kota New York hingga majalah National Geographic yang menjadi sumber ilmu pengetahuan yang menyenangkan.
Majalah juga merupakan ladang iklan yang sangat potensial bagi industri media cetak, dimana harga sewa iklan, sekecil apapun ukurannya, masih lebih mahal daripada iklan di koran atau tabloid. Terlebih jika sebuah majalah telah mendapatkan positioning kuat, maka deretan pengiklan akan mengantri bahkan sampai menimbukan sistem lelang. Siapa yang memasang tinggi harga sewa iklan, maka ia yang akan berhak beriklan di majalah bersangkutan. Ada beberapa contoh majalah yang menjadi incaran utama pengiklan seperti majalah Tempo, Femina dan Bobo.
Majalah juga merupakan satu-satunya jenis media cetak yang dapat diwaralabakan ke seluruh dunia. Mengusung konsep dan tema yang sama dengan induknya, namun disajikan dengan pendekatan yang agak lokal untuk menjaring pembaca. Waralaba majalah sendiri mulai berlangsung sejak awal 70-an dimana era globalisasi kian berkembang. Majalah dalam beberapa hal juga menjadi alat propaganda pihak-pihak tertentu untuk meluaskan pengaruhnya di dunia. Strategi tersebut sukses, setidaknya sebut saja serbuan waralaba majalah gaya hidup yang berhasil menyuburkan gaya hidup kosmopolitan di seantero dunia. Satu contih majalah gaya hidup yang dapat ditemukan dengan mudah di berbagai belahan dunia adalah majalah Elle, majalah mode dan gaya hidup perempuan yang bercita rasa modern. Walaupun secara gengsi, masih kalah jauh dengan majalah Vogue, namun Elle berhasil mengukuhkan diri sebagai majalah mode terlaris di dunia yang terbit dalam 54 edisi bahasa berbeda..
Waralaba majalah juga merambah Indonesa dengan pionirnya adalah majalah Cosmopolitan yang menggebrak tanah air di akhir dekade 90-an. Konsep yang ditawarkan pun terbilang berani dengan slogan fun fearless female magazine, majalah ini menjadi majalah perempuan yang ‘frontal’ di Indonesia ketika isu kebebasan berekspresi mulai menapaki jalannya pasca runtuhnya orde baru yang konservatif. Berlanjut setelahnya, bermunculan majalah-majalah terkemuka dunia dalam bahasa Indonesia dengan tema yang semakin beragam dan berani. Tentu masih ingat dengan majalah Playboy Indonesia yang sempat terbit tiga kali,  namun dengan kecaman disana-sini hingga akhirnya berhenti terbit.
Terlepas dari isu kian terancamnya media cetak oleh gerusan media digital yang sangat cepat, majalah tetap hadir sebagai sebuah kekuatan dari dunia cetak. Sebuah kekuatan yang diharapkan kelak dapat melanggengkan bentuk media cetak di tengah-tengah kehidupan yang serba digital.

Kamis, 29 Desember 2011

Opini: Jika Tanpa Nasi

Dulu kita pernah berswasembada pangan di era orde baru, dan kita juga bersyukur pada 2009 kemarin sempat kita mencapai titik swasembada pangan, walaupun secara kuantitas lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Lalu kenapa kita tidak mampu untuk mempertahankannya? Dan kita lihat akhir-akhir ini banyak warga miskin hampir di seantero Indonesia kesulitan untuk sekedar makan nasi satu piring saja, padahal kekurangan pasokan beras pun tidak terjadi disini. Lalu kenapa?
Banyak warga miskin sulit untuk makan nasi, pun itu hanya sepiring nasi setiap harinya karena kian menggilanya kenaikan harga beras di pasaran. Yang berkualitas paling rendah saja sudah menyentuh harga Rp. 6.000,- per kilogramnya, tentu memberatkan banyak masyarakat, khususnya warga miskin. Hal ini dikarenakan beras merupakan jenis bahan pokok yang sensitif, yang dengan kebisuannya mampu membuat pusing negeri ini.
Akhirnya banyak warga miskin, tidak di desa dan di kota, sama-sama mencari alternatif lain sebagai pengganti panganan pokok mereka. Mulai dari umbi-umbian yang murah meriah seperti singkong dan ubi hingga nasi aking atau nasi sisa yang dijemur, biasanya untuk pakan unggas. Mereka terpaksa memakan makanan tersebut karena terdesak oleh kebutuhan pokok yang tak bisa ditunda yakni makan. Manusia butuh makan untuk tetap dapat bertahan hidup, dan untuk itu dibutuhkan asupan makanan yang begizi. Namun bagi banyak warga miskin saat ini, makan ya sebatas makan, tidak perlu memikirkan tetek bengek tentang gizi, apalagi hitung-hitungan kalori seperti banyak dibahas dalam resep-resep sehat. Pokoknya makan ya urusan perut kenyang, tak lebih.
Sebagai seorang manusia, tentu saya juga memiliki rasa iba melihat hal tersebut. Ingin membantu tapi harus bagaimana, bingung! Dengan penghasilan yang tak seberapa besarnya, sudah cukup pusing untuk mengatur kebutuhan sehari-hari dengan seefisien mungkin. Saat ini saya hanya mampu untuk ikhlas memberikan sedikit rezeki saya melalui badan amal ataupun secara langsung kepada yang membutuhkan jika saya alhamdulilah memiliki sedikit limpahan rezeki lebih. Saya yakin bukan saya saja yang iba dengan hal ini, banyak manusia-manusia Indonesia lainnya juga peduli dengan hal ini. Tapi kita bisa apa? Pemerintah lah yang lebih berwenang untuk mengatasi masalah ini karena tugas utamanya adalah memberikan sebuah pelayanan negara yang baik bagi warganya, yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Rakyat tidak minta makanan gratis setiap hari, tapi rakyat hanya minta kepastian pemerintahan dalam pembangunan kesejahteraan rakyatnya.
Ini adalah sebuah masalah besar yang akan menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah. Rakyat adalah hal nomor satu yang harus dipikirkan oleh pemerintah, karena bagaimanapun juga pemerintah ada karena rakyat. Jika saya hidup tanpa nasi, akan jadi apa saya? Belum tentu saya dapat hidup dengan tenang, pasti saya akan menggerutu terus akan hal tersebut.

Rabu, 28 Desember 2011

Opini: Politik Gaga (mencoba sok berpolitik)

Saya tidak begitu paham dunia politik dan tidak mengerti bagaimana cara berbicara dan mengeluarkan pendapat dengan gaya pengamat politik. Namun, saya selalu mengikuti perkembangan politik dengan setengah hati, maksudnya berusaha meraba-raba maksud dari intrik politik yang disebut di dalam berita.
Hampir tiga bulan ini saya kebetulan berkesempatan magang menjadi jurnalis di sebuah portal berita online, dan mau tidak mau saya setiap hari harus bersentuhan dengan dunia politik, mengais-ngais berita dari dalam sana. Mulai dari menelepon narasumber dengan melakukan improvisasi pertanyaan, manuver penyelidikan dan berusaha menyinggung seksinya sumber berita, yang terakhir ini benar-benar harus ekstra berani.
Saya juga melakukan liputan lapangan, tentunya dengan obyek pemberitaan mayoritas adalah politik yang cenderung tertuju pada kritik ke pemerintahan saat ini. Saya menemukan banyak sekali mereka yang lantang mengkritik, benar-benar kritik negatif yang saya rasa atas dasar pengamatan permukaan saja, hingga menemukan kritikan yang cerdas, kritikan yang tidak hanya asal mengkritik namun juga menjabarkan ide solusi pemecahan.

Selasa, 27 Desember 2011

Pembenaran Untuk 4L4Y (Alay)

Kenapa muncul istilah ‘alay’? saya juga tidak tahu asal mulanya bagaimana, tapi yang pasti saya yakin itu adalah bentuk ketidakpahaman mereka-mereka yang ‘kejepit’ paham modernisasi dalam arti sempit.
Selalu saja sesuatu yang dinilai alay diasosiasikan dengan kampungan, tidak berpendidikan dan miskin gaya. Hello? Dimana sih pikiran kita sebagai kaum yang ‘katanya’ intelektual’ dalam menyikapi hal ini? Kita seakan menutup mata melihat itu semua, membuat mereka yang bergaya alay terasa sepat di mata kita. Sebenarnya secara tidak langsung kita sedang membodohi diri sendiri dengan membencinya.